Dokter-dokter Nakal di Garut Segera Ditegur Kadis Kesehatan
Garut Toleran - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Tenni Sewara Rifai, mengatakan segera menegur dan menindaklanjuti para dokter puskesmas yang lebih mementingkan praktik di tempat praktik pribadi daripada di puskemas.
"Peraturannya, mereka harus praktik di puskesmas sesuai jadwal praktiknya. Tidak boleh praktik di tempat lain, jika saat itu seharusnya dokter itu praktik di puskesmas," kata Tenni, Rabu (4/2).
Tenni mengatakan telah mendapat laporan mengenai dokter-dokter tersebut dan akan segera menegurnya. Dokter-dokter puskesmas, katanya, seharusnya mementingkan pelayanan di puskesmasnya.
Sejumlah keluarga pasien di Malangbong dan Pameungpeuk mengeluhkan buruknya pelayanan kesehatan di puskesmas setempat. Hal ini disebabkan dokter pusekesmas yang sibuk praktik di rumah dinas pada saat jam kerja, daripada mengurusi pasien di puskesmas.
Seorang keluarga pasien asal Malangbong, Dayat (50), mengatakan orang tuanya sudah dua hari dirawat di Puskesmas Malangbong. Namun selama itu, tidak sekalipun mendapat pemeriksaan dokter. Penanganan medis hanya dilakukan oleh siswa yang tengah melakukan praktek kerja di puskesmas tersebut.
"Hal ini sangat disesalkan karena biasanya pasien yang dirawat paling tidak akan mendapat pemeriksaan dokter dua kali sehari. Dan ternyata, hal serupa juga dialami pasien lainnya di Puskesmas Malangbong," katanya.
Menurut Dayat, dia dan keluarga pasien lainnya sudah mencoba memprotes pihak puskesmas terkait dengan kondisi tersebut. Saat itu, petugas beralasan hal ini terjadi akibat keterbatasan tenaga dokter.
"Tapi ternyata tiap harinya malah sibuk melayani pasien yang berobat ke rumah dinasnya yang digunakan untuk membuka praktek pengobatan. Dokter tersebut buka praktek di rumah dinasnya pada saat jam kerja," katanya.
Warga Pameungpeuk, Fabian (30), mengatakan hal serupa terjadi di puskesmasnya. Para dokternya lebih menyarankan datang ke tempat prakteknya daripada dirawat di puskesmas.
"Saya datang pagi untuk mengobati anak saya, tahunya malah disuruh nunggu dan tak kunjung datang. Kemudian sorenya disuruh ke tempat prakteknya. Tentu saja, di sana saya harus membayar jauh lebih mahal," katanya.
Akibat lebih mementingkan praktik di tempatnya masing-masing, kata Fabian, pelayanan kesehatan di puskesmas jadi terkesan terbengkalai. Penindakan kesehatan di puskesmas pun akhirnya dinilai menjadi sangat lamban.
"Untuk menentukan anak saya dirujuk ke RSUD Garut atau tidak saja sangat lama. Bukan hanya saya yang alami ini, tetangga saya juga banyak yang komplain dengan pelayanan ini," katanya.
Fabian mengatakan sebaiknya para dokter puskesmas hanya mengabdi kepada negara dengan cara melayani pasien di puskesmas. Kini, katanya, gelar dokter hanya terkesan untuk mencari keuntungan dari pasien.
"Peraturannya, mereka harus praktik di puskesmas sesuai jadwal praktiknya. Tidak boleh praktik di tempat lain, jika saat itu seharusnya dokter itu praktik di puskesmas," kata Tenni, Rabu (4/2).
Tenni mengatakan telah mendapat laporan mengenai dokter-dokter tersebut dan akan segera menegurnya. Dokter-dokter puskesmas, katanya, seharusnya mementingkan pelayanan di puskesmasnya.
Sejumlah keluarga pasien di Malangbong dan Pameungpeuk mengeluhkan buruknya pelayanan kesehatan di puskesmas setempat. Hal ini disebabkan dokter pusekesmas yang sibuk praktik di rumah dinas pada saat jam kerja, daripada mengurusi pasien di puskesmas.
Seorang keluarga pasien asal Malangbong, Dayat (50), mengatakan orang tuanya sudah dua hari dirawat di Puskesmas Malangbong. Namun selama itu, tidak sekalipun mendapat pemeriksaan dokter. Penanganan medis hanya dilakukan oleh siswa yang tengah melakukan praktek kerja di puskesmas tersebut.
"Hal ini sangat disesalkan karena biasanya pasien yang dirawat paling tidak akan mendapat pemeriksaan dokter dua kali sehari. Dan ternyata, hal serupa juga dialami pasien lainnya di Puskesmas Malangbong," katanya.
Menurut Dayat, dia dan keluarga pasien lainnya sudah mencoba memprotes pihak puskesmas terkait dengan kondisi tersebut. Saat itu, petugas beralasan hal ini terjadi akibat keterbatasan tenaga dokter.
"Tapi ternyata tiap harinya malah sibuk melayani pasien yang berobat ke rumah dinasnya yang digunakan untuk membuka praktek pengobatan. Dokter tersebut buka praktek di rumah dinasnya pada saat jam kerja," katanya.
Warga Pameungpeuk, Fabian (30), mengatakan hal serupa terjadi di puskesmasnya. Para dokternya lebih menyarankan datang ke tempat prakteknya daripada dirawat di puskesmas.
"Saya datang pagi untuk mengobati anak saya, tahunya malah disuruh nunggu dan tak kunjung datang. Kemudian sorenya disuruh ke tempat prakteknya. Tentu saja, di sana saya harus membayar jauh lebih mahal," katanya.
Akibat lebih mementingkan praktik di tempatnya masing-masing, kata Fabian, pelayanan kesehatan di puskesmas jadi terkesan terbengkalai. Penindakan kesehatan di puskesmas pun akhirnya dinilai menjadi sangat lamban.
"Untuk menentukan anak saya dirujuk ke RSUD Garut atau tidak saja sangat lama. Bukan hanya saya yang alami ini, tetangga saya juga banyak yang komplain dengan pelayanan ini," katanya.
Fabian mengatakan sebaiknya para dokter puskesmas hanya mengabdi kepada negara dengan cara melayani pasien di puskesmas. Kini, katanya, gelar dokter hanya terkesan untuk mencari keuntungan dari pasien.






Tidak ada komentar