Ini Dia Penyebab Banjir Bandang Kerap Terjadi Di Garut
Garut Toleran - Penebangan pohon yang semakin marak di kawasan pegunungan dan perbukitan Garut menyebabkan debit air di seluruh sungai di Garut tidak terkendali dan menjadi sangat deras saat musim hujan.
Hal ini menyebabkan semakin banyak jembatan dan infrastruktur lainnya yang rusak akibat diterjang banjir bandang. Intensitas banjir bandang juga kian sering terjadi.
Ketua DPRD Kabupaten Garut, Ade Ginanjar, mengatakan walaupun berkali-kali diperbaiki, sejumlah jembatan di Garut, baik jembatan permanen ataupun rawayan, tetap rusak atau lenyap diterjang banjir bandang.
Hal ini terjadi di antaranya terhadap jembatan rawayan di Desa Tanjungmulya, Kecamatan Pakenjeng, dan Jembatan Leuwikacapi di Kecamatan Cikelet. Walaupun baru beberapa minggu selesai diperbaiki, jembatan ini kembali rusak terbawa banjir bandang.
“Sebagus apapun konstruksinya, jembatan ini selalu terkena banjir bandang. Fondasinya selalu tergerus air atau badan jembatannya terbawa hanyut,” kata Ade, Rabu (11/2).
Selain penggunaan teknik yang matang untuk membangun jembatan baru, kata Ade, pemerintah pun wajib memperbaiki dan menjaga kondisi alam di kawasan hulu sungai. Banjir bandang, katanya, disebabkan oleh kian maraknya penebangan pohon di kawasan hutan.
Reboisasi hutan, ucapnya, tengah dilakukan sejumlah dinas dan instansi terkait. Jika penebangan pohon dihentikan dan kondisi alamnya kembali dihijaukan, katanya, kondisi sungai di Garut pun akan berangsur normal dengan peningkatan debit air sewajarnya.
“Selepas 14 hari setelah bencana, pembangunan jembatan harus secara permanen. Untuk perbaikan jembatan di Pakenjeng dan Cikelet, kami telah memerintahkan dinas terkait untuk membangun jembatan baru,” katanya.
Jika tidak dimungkinkan menggunakan dana dari APBD Perubahan, katanya, dana pembangunan bisa menggunakan kas dana tidak terduga. Pembangunan jembatan yang sangat dibutuhkan warga, katanya, harus didahulukan.
Sebelumnya diberitakan, jembatan di atas Sungai Cikandang tersebut ambruk sebanyak dua kali pada 2014. Warga pun akhirnya terpaksa mengarungi subgai dengan rakit untuk bisa meneyeberang. Bupati pun telah berjanji membangun jembatan di lokasi tersebut menggunakan Dana Tidak Terduga atau CSR perusahaan.
Dandim 0611 Garut, Letkol Inf Bungkus Hadi Suseno, mengatakan siap membantu pembangunan jembatan di Pakenjeng dengan cara mengerahkan warga dan personilnya untuk membangun jembatan tersebut.
“Kalau mau dibuat baru, fondasi jembatannya harus lebih tinggi dari sebelumnya. Nantinya supaya jembatan tidak lagi terkena banjir bandang,” katanya.
sumber: tribun jabar
Hal ini menyebabkan semakin banyak jembatan dan infrastruktur lainnya yang rusak akibat diterjang banjir bandang. Intensitas banjir bandang juga kian sering terjadi.
Ketua DPRD Kabupaten Garut, Ade Ginanjar, mengatakan walaupun berkali-kali diperbaiki, sejumlah jembatan di Garut, baik jembatan permanen ataupun rawayan, tetap rusak atau lenyap diterjang banjir bandang.
Hal ini terjadi di antaranya terhadap jembatan rawayan di Desa Tanjungmulya, Kecamatan Pakenjeng, dan Jembatan Leuwikacapi di Kecamatan Cikelet. Walaupun baru beberapa minggu selesai diperbaiki, jembatan ini kembali rusak terbawa banjir bandang.
“Sebagus apapun konstruksinya, jembatan ini selalu terkena banjir bandang. Fondasinya selalu tergerus air atau badan jembatannya terbawa hanyut,” kata Ade, Rabu (11/2).
Selain penggunaan teknik yang matang untuk membangun jembatan baru, kata Ade, pemerintah pun wajib memperbaiki dan menjaga kondisi alam di kawasan hulu sungai. Banjir bandang, katanya, disebabkan oleh kian maraknya penebangan pohon di kawasan hutan.
Reboisasi hutan, ucapnya, tengah dilakukan sejumlah dinas dan instansi terkait. Jika penebangan pohon dihentikan dan kondisi alamnya kembali dihijaukan, katanya, kondisi sungai di Garut pun akan berangsur normal dengan peningkatan debit air sewajarnya.
“Selepas 14 hari setelah bencana, pembangunan jembatan harus secara permanen. Untuk perbaikan jembatan di Pakenjeng dan Cikelet, kami telah memerintahkan dinas terkait untuk membangun jembatan baru,” katanya.
Jika tidak dimungkinkan menggunakan dana dari APBD Perubahan, katanya, dana pembangunan bisa menggunakan kas dana tidak terduga. Pembangunan jembatan yang sangat dibutuhkan warga, katanya, harus didahulukan.
Sebelumnya diberitakan, jembatan di atas Sungai Cikandang tersebut ambruk sebanyak dua kali pada 2014. Warga pun akhirnya terpaksa mengarungi subgai dengan rakit untuk bisa meneyeberang. Bupati pun telah berjanji membangun jembatan di lokasi tersebut menggunakan Dana Tidak Terduga atau CSR perusahaan.
Dandim 0611 Garut, Letkol Inf Bungkus Hadi Suseno, mengatakan siap membantu pembangunan jembatan di Pakenjeng dengan cara mengerahkan warga dan personilnya untuk membangun jembatan tersebut.
“Kalau mau dibuat baru, fondasi jembatannya harus lebih tinggi dari sebelumnya. Nantinya supaya jembatan tidak lagi terkena banjir bandang,” katanya.
sumber: tribun jabar






Tidak ada komentar