Auto News

some_text

Breaking News

Mengenal Sejarah Batu Akik dari Garut (1)


Garut ToleranBatu Garut, terutama batu hijau saat ini tengah naik daun karena keindahan dan kualitasnya yang baik. Nama Mang Ohen pun ikut terkenal bersama nama besar batu Garut yang dulu disebut Gandawesi.


Iqbal Gojali, Radar Garut


Booming batu akik, membuat nama Garut juga ikut terkenal. Karena, dari tanah Garut, ditemukan batu hijau yang kualitasnya terkenal cukup baik. Keberadaan batu hijau tersebut, tidak lepas dari nama Mang Ohen hingga nama batu Ohen pun melekat. Mang Ohen sendiri, adalah seorang pemilik tanah yang ada di kawasan Kampung Cipendeuy Desa Caringin Kecamatan Cisewu.


Nama besar batu Garut sendiri, terutama yang berkaitan dengan Mang Ohen, ternyata tidak lepas dari keberadaan Mobil Brigade (Mobrig) yang merupakan cikal bakal dari unit khusus Kepolisian yaitu Brigade Mobil (Brimob). Karena, dari para anggota Mobrig inilah batu hijau Mang Ohen pertama di bawa keluar Garut dan dikenalkan kepada para pecinta batu di Indonesia.


Abdul Kodir (60), warga Desa Caringin, Kecamatan Cisewu, bisa disebut sebagai salahsatu saksi sejarah keberadaan batu Ohen Garut. Karena, Abdul Kodir termasuk salahsatu penambang yang pertama kali menggali batu Garut di lahan milik Mang Ohen di Kampung Cipendeuy Desa Caringin bersama beberapa penambang lainnya setelah batu-batu hijau tersebut dibawa dan dikenalkan ke dunia luar oleh para anggota Mobrig.


Abdul Kodir menceritakan, batu-batu hijau yang oleh warga setempat lebih dikenal dengan batu Gandawesi, awalnya muncul setelah peristiwa longsor di tahun 1953. Setelah longsor tersebut, batu-batu hijau dengan warna cemerlang yang sebelumnya terkubur di dalam tanah pun berserakan di tanah milik Ohen.


Meski tahu batu tersebut bagus, namun menurut Abdul Kodir, warga belum mengetahui batu-batu tersebut punya nilai ekonomi tinggi. Warga pun, hanya memanfaatkan batu tersebut sebagai alat untuk menyalakan api dengan cara digesek atau diadukan.


Kebetulan, setelah longsor terjadi, di wilayah Kampung Cipeundeuy Desa Caringin, diturunkan banyak anggota satuan khusus Mobrig yang melakukan operasi penumpasan tentara Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Saat itu, anggota Mobrig juga sempat membantu warga membereskan sisa-sisa longsoran dan melihat batu-batu hijau yang digunakan oleh warga untuk membuat api dan tertarik dengan keindahannya. "Setelah membantu membersihkan longsoran, mereka lalu meminta batu-batu tersebut kepada warga," kata Abdul Kodir saat ditemui Radar Garut (harian satu grup dengan RadarPena.com di WSM Media Group) di Koperasi Lasminingrat Gemstone yang ada di Jalan Pataruman, Kelurahan Pataruman, Tarogong Kidul.


Setelah masa operasi selesai, anggota Mobrig yang datang dari berbagai daerah di Jawa Barat seperti Ciamis, Sukabumi dan Cianjur pun pulang. Saat itu, mereka juga membawa oleh-oleh batu hijau ke daerahnya masing-masing. Dan menceritakan kepada orang-orang di daerahnya tentang batu yang mereka dapat di Cisewu, Garut. "Karena daerahnya mengalami pemekaran, maka tempat Ohen saat ini berada di Kampung Cipendeuy Desa Sukarame, Kecamatan Caringin," katanya.


Cerita tentang keindahan batu Garut yang dibawa para anggota Mobrig ini, menyebar dari mulut ke mulut selama bertahun-tahun lamanya hingga ke beberapa daerah. Hingga akhirnya, ada seorang warga dari Sukabumi, bernama H Endang yang sengaja datang ke Bungbulang untuk mencari batu hijau di lahan milik Ohen setelah mendengar dari kawannya yang juga anggota Mobrig.


Saat itu, menurut Kodir, karena kondisi jalan menuju lahan Ohen jelek, H Endang yang datang menggunakan mobil, hanya bisa sampai ke Kecamatan Bungbulang, tidak bisa sampai ke Cisewu. Untuk bisa sampai ke Cisewu, H endang pun diantar oleh H Adang, warga Bungbulang menggunakan kuda. "Ini terjadi pada tahun 1978, saat itu H Endang membeli batu-batuan yang berserakan di tanah Ohen hingga mencapai setengah kuintal, tapi pak Ohen tidak menjelaskan berapa banyak uang yang didapat dari hasil menjual batu tersebut ke H Endang," katanya.


Kedatangan H Endang untuk membeli batu yang berserakan di lahan milik Ohen tersebut, menurut Kodir, jelas membuat Ohen senang. Saat itu, Ohen merasa seperti mendapatkan rejeki nomplok karena sebelumnya batu-batu tersebut sama sekali tidak memiliki nilai ekonomi.


"Setelah itu, atas ijin pak Ohen, mulailah kami melakukan penggalian di tanah milik Pak Ohen, yang pertama gali batu di kawasan ini adalah saya, Pak Irin, Pak Sadid, Pak Andim dan Pak Mamar," sebutnya.


Sejak saat itu, menurut Kodir, mulai banyak orang yang berdatangan mencari batu, termasuk dari luar Garut, seingatnya hingga tahun 1988 saja, banyak orang yang datang langsung untuk membeli batu hijau tersebut dengan harga Rp 2500 per kilogramnya. Bukan hanya membeli, ada juga yang sengaja datang untuk mengambil contoh batu Garut tersebut untuk diteliti. (bersambung) 




sumber: radarpena

Tidak ada komentar